Regulasi AI Indonesia Berbasis Risiko Didorong Akademisi UI

Akademisi UI menilai aturan AI perlu berbasis risiko agar pengawasan teknologi lebih terarah dan relevan.

SA
Super Admin
·Sep 15, 2026· 1 min read 15

Perkembangan kecerdasan buatan makin cepat, sementara kebutuhan aturan yang tepat ikut mendesak. Dalam pemberitaan ANTARA News Jateng yang terindeks Google News, akademisi Universitas Indonesia dilaporkan mendorong regulasi AI Indonesia dengan pendekatan berbasis risiko.

Dorongan Regulasi AI Indonesia

Isu utama yang muncul ialah bagaimana Indonesia menyiapkan aturan untuk teknologi AI tanpa menghambat pemanfaatannya. Dorongan dari akademisi UI menempatkan regulasi sebagai alat untuk memberi arah, batas, dan kepastian dalam penggunaan kecerdasan buatan.

Pendekatan berbasis risiko berarti perhatian aturan diarahkan pada potensi dampak dari penggunaan AI. Dengan cara ini, pengawasan tidak dipukul rata untuk semua bentuk pemakaian teknologi.

Mengapa Pendekatan Berbasis Risiko Penting

Model berbasis risiko membuat pembahasan regulasi lebih fokus. Penggunaan AI yang berdampak besar dapat memperoleh perhatian lebih kuat, sementara pemanfaatan yang risikonya lebih rendah dapat diatur secara proporsional.

  • Aturan dapat disusun sesuai tingkat risiko penggunaan AI.
  • Pengawasan menjadi lebih terarah dan tidak seragam.
  • Pengembangan teknologi tetap punya ruang, selama risiko dikelola.
  • Publik mendapat kepastian soal arah tata kelola AI.

AI Butuh Tata Kelola yang Jelas

Regulasi AI Indonesia menjadi penting karena teknologi ini dapat masuk ke banyak sektor. Tanpa kerangka yang jelas, pemanfaatan AI berpotensi berjalan lebih cepat dibanding kesiapan tata kelola.

Dorongan dari kalangan akademik memberi sinyal bahwa pembahasan aturan AI tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal tanggung jawab, pengawasan, dan perlindungan kepentingan publik.

Fokus Pembahasan ke Depan

Berdasarkan isu yang dilaporkan, pembahasan berikutnya perlu mengarah pada bentuk aturan yang mampu membedakan tingkat risiko. Dengan begitu, regulasi tidak berhenti pada prinsip umum, tetapi dapat dipakai sebagai panduan praktis.

  1. Menentukan kategori risiko dalam penggunaan AI.
  2. Menyusun kewajiban sesuai tingkat dampak.
  3. Menjaga ruang inovasi tetap terbuka.
  4. Memastikan pengawasan berjalan konsisten.

Kesimpulannya, dorongan akademisi UI memperkuat urgensi regulasi AI Indonesia yang lebih terukur. Pendekatan berbasis risiko dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan inovasi dan perlindungan publik.


Artikel ini ditulis ulang oleh AI berbasis rangkuman publik dari News. Baca artikel aslinya di sumber.

Share this article
SA

Written by

Super Admin

Related articles

S

Startup Indonesia-Malaysia Garap Prostetik Berbasis AI

Kolaborasi lintas negara ini menyorot peluang kemandirian industri medis lewat pengembangan prostetik berbasis AI.

SA
Super Admin
1m 6
Read more
B

Bentley Bahas AI untuk Rancang Bangunan Tahan Gempa RI

Bentley menyoroti peran AI sebagai bantuan desain bangunan tahan gempa di Indonesia. Simak poin penting dan manfaatnya.

SA
Super Admin
1m 12
Read more
I

Infrastruktur AI Indonesia Dilirik, Investasi Rp357 Triliun

Minat pada infrastruktur AI Indonesia disebut membuka peluang investasi Rp 357 triliun. Apa arti sinyal ini bagi ekonomi digital?

SA
Super Admin
1m 13
Read more