Indonesia Dorong UNESCO Bertindak soal AI dan Budaya

Indonesia meminta UNESCO lebih aktif menata pemanfaatan AI agar pelestarian budaya tetap aman, etis, dan inklusif.

SA
Super Admin
·Oct 13, 2026· 2 min read 9

Perkembangan kecerdasan buatan atau AI kini bukan hanya menyentuh sektor teknologi, tetapi juga ruang kebudayaan. Dalam konteks itu, Indonesia dilaporkan mendorong UNESCO untuk mengambil peran lebih nyata dalam memastikan AI digunakan secara bijak bagi pelestarian budaya.

Indonesia Mendorong Peran UNESCO

Menurut laporan yang beredar melalui kanal berita, Indonesia menyerukan agar UNESCO memberi perhatian pada hubungan antara AI dan pelestarian warisan budaya. Dorongan ini menempatkan isu budaya dalam percakapan global tentang teknologi, bukan sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai aspek yang perlu dilindungi.

UNESCO selama ini dikenal sebagai lembaga internasional yang berkaitan erat dengan pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Karena itu, permintaan agar UNESCO ikut mengarahkan pemanfaatan AI dalam bidang budaya dinilai relevan, terutama ketika teknologi digital semakin mudah digunakan untuk mengolah, menyimpan, dan menyebarkan materi budaya.

Fokus pada Pelestarian, Bukan Sekadar Inovasi

Seruan Indonesia menekankan bahwa inovasi teknologi perlu berjalan seiring dengan perlindungan nilai budaya. AI dapat dipandang sebagai alat yang membantu, tetapi penggunaannya tetap memerlukan rambu-rambu agar tidak mengabaikan konteks, makna, dan kepemilikan budaya.

Mengapa AI Penting untuk Budaya?

AI membuka peluang baru dalam cara masyarakat mengenali dan mengakses warisan budaya. Namun, pemanfaatannya juga menimbulkan pertanyaan tentang etika, akurasi, dan penghormatan terhadap komunitas pemilik tradisi.

Dalam isu pelestarian budaya, perhatian utama bukan hanya pada kemampuan teknologi, tetapi juga pada bagaimana teknologi itu digunakan. Tanpa panduan yang jelas, materi budaya berisiko diperlakukan sebagai data biasa, padahal di dalamnya terdapat nilai sejarah, identitas, dan pengetahuan masyarakat.

Hal yang Perlu Diwaspadai

  • Penggunaan materi budaya tanpa konteks yang memadai.
  • Potensi penyederhanaan makna tradisi oleh sistem digital.
  • Kebutuhan perlindungan terhadap hak dan identitas komunitas budaya.
  • Pentingnya standar etika dalam pengembangan teknologi berbasis AI.

Arah Kebijakan yang Diharapkan

Dorongan kepada UNESCO dapat dibaca sebagai ajakan untuk membangun pendekatan internasional yang lebih terarah. Dengan adanya pedoman atau kerja sama lintas negara, pemanfaatan AI untuk budaya diharapkan tidak hanya mengutamakan efisiensi, tetapi juga tanggung jawab.

Beberapa fokus yang secara umum dapat menjadi perhatian antara lain dokumentasi warisan budaya, edukasi publik, akses digital yang inklusif, serta perlindungan terhadap nilai-nilai lokal. Meski demikian, setiap langkah tetap perlu mempertimbangkan posisi komunitas budaya sebagai pihak yang memiliki hubungan langsung dengan warisan tersebut.

Budaya dalam Era Digital

Isu ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak lagi dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. Ketika AI semakin banyak digunakan, negara dan lembaga internasional perlu memastikan bahwa kemajuan digital tidak menghapus keberagaman budaya, melainkan membantu menjaganya.

Kesimpulan

Seruan Indonesia kepada UNESCO menegaskan pentingnya tata kelola AI dalam pelestarian budaya. Teknologi dapat menjadi peluang besar, tetapi hanya jika digunakan dengan prinsip kehati-hatian, etika, dan penghormatan terhadap warisan budaya. Ke depan, publik perlu terus mengikuti bagaimana isu ini berkembang di tingkat global.


Artikel ini ditulis ulang oleh AI berbasis rangkuman publik dari News. Baca artikel aslinya di sumber.

Share this article
SA

Written by

Super Admin

Related articles

N

NEC Indonesia Pamerkan AI Pendeteksi Anomali Industri

NEC Indonesia dilaporkan memamerkan AI pendeteksi anomali sistem industri. Simak fokus teknologi dan dampaknya bagi operasional.

SA
Super Admin
1m 9
Read more
B

Bos DCI Indonesia: AI Dorong Produktivitas Manusia

Bos DCI Indonesia menegaskan AI diposisikan sebagai alat bantu kerja, bukan pengganti peran manusia.

SA
Super Admin
2m 8
Read more